Jumat, 13 Juli 2012

UAS KOMPUTER


UAS KOMPUTER

 INDENTITAS MAHASISWA
1.      Nama : Rika yuliani putri
NIM : 102114340
2.      Berdasarkan angka NIM terakhir saya, maka file yang akan diolah adalah [ Genap ]
3.      File hasil eksport Epidata ke SPSS berekstensi .SPS. dengan nama file rika yuliani 1.sps
4.      File syntax fani 2b.sps dieksport ke SPSS dan disimpan dengan nama rika yuliani putri dan ekstensi .SPO.
5.      File data fani wulandari 2b berisi 39 field dan 8390 record. Data kategorik sebanyak 25 field dan data numerik sebanyak 14 field.
6.      Simpan file syntax dengan nama yang sama dengan file data. Pastekan disini sintax tentang ADD VALUE LABELS variabel didik, kerja, pernah, ukurtb, fundus, tensi, tfe, tt, akseptor, ksepsi alasan, dan rencana.
7.      Catat disini jumlah record sebelum didelete 8390 record dan sesudah didelete yang missing tersisa 8082 record.
8.      Jumlah record sebelum di delete sistol yang missing adalah sebanyak 8382 record dan setelah dilakukan penghapusan field sistol yang missing tersisa 8131 record.
9.      Jumlah record sebelum di delete diastol yang missing adalah sebanyak 8381 record dan setelah dilakukan penghapusan field diastol yang missing tersisa 8084 record
10.  Jumlah field sebelum kerja yg missing adalah 8084 record dan setelah field erja dicleaning adalah 8082 record.
11. digit terakhir NIM saya adalah : 40
digit terakhir adalah : Genap
12. -

13. Jumlah record tersisa setelah di delete sebanya 50 record mulai dari 2 digit NIM
adalah 8032 record.
14.

 selanjutnya.

Selasa, 19 Juni 2012

ANALISIS BIVARIAT

 
KASUS 1
Pekerjaan Ibu dengan Tekanan Darah Diatolik
  1. Tujuan : independen variabel adalah pekerjaan ibu dan dependen variabel adalah tekekanan darah diastolik
  2. Idenfifikasi field dalam database : pekerjaan ibu nama fieldnya kerja dan tekeanan darah diastolik nama fieldnya adalah diastol
  3. Field kerja adalah data kategorik (K) dan field diastol adalah data numerik (N)
  4. H0 pengujian : Uji yang dipakai adalah uji beda rata-rata dimana data kategoriknya lebih dari 2 kategori.
  5. H0: Tidak ada perbedaan rata-rata pekerjaan ibu dengan tekanan darah diastol
  6. Data numerik dalam KASUS ini adalah tekanan darah diastol.
Hasil pengujian normality adalah :
Data berdistribusi Tidak Normal. Bukan Anova tapi Kruskall Wallis
  1. P=0.000
P<0.05
  1. H0 ditolak,
Intervensi :ada beda rata-rata antara tingkat pekerjaan ibu dengan tekanan darah diastol

Minggu, 22 Januari 2012

Interaksi Yodium dengan Zat gizi lain Pendahuluan

Menurut Golden (1992), yodium termasuk dalam klasifikasi/kategori nutrient type I (pertama), bersama sama dengan zat gizi lain seperti besi, selenium,calcium, thiamine dll. Type I ini mempunyai ciri yang apabila kekurangan maka gangguan pertumbuhan bukan merupakan tanda yang pertama melainkan timbul setelah tahap akhir dari kekurangan  zat gizi tersebut. Tanda yang spesifik lah yang pertama akan timbul. Dalam hal kekurangan yodium, dapat menyebabkan gangguan akibat kekurangan yodium yang sering disebut IodineDeficiency Disorder (IDD). Dalam type II, pertumbuhan akan terganggu terlebih dahulu, tetapi memberikan nilai penilaian biokimia cairan tubuh yang normal. Nutrient yang termasuk ini adalah potasium, natrium, zinc dll. 
IDD adalah gangguan yang merugikan kesehatan sebagai akibat dari kekurangan yodium, yang kita kenal juga dengan singkatan GAKY. Kekurangan yodium pada tanah menyebabkan masyarakat yang hidup dan bertempat tinggal di daerah tersebut menjadi masyarakat yang rawan terhadapIDD. Yang paling ditakutkan dari kekurangan yodium ini adalah meningkatnya kematian bayi beberapa saat setelah dilahirkan dan perkembangan otak yang terhambat (neonatal hypotyroidsm). Faktor yang berperan dalam kejadian IDDdiantaranya adalah adanya hubungan idoium dengan zat lain misalnyathyosianat dan selenium (Thaha dkk, 2001) Tulisan dibawah ini akan membahas lebih lanjut hubungan tersebut.
A. Selenium
Ketersediaan selenium yang kurang pada tanah diduga juga mengandung rendah yodium pada tanah yang sama. Untuk sementara interaksi antara yodium dan selenium dalam proses penyerapan belum ada. Kalaupun ada interkasi ini sangat kompleks dan terkait dengan fungsi fungsi selenium dalamselenoprotein. Pada binatang percobaan ditemukan bahwa kurang selenium meningkatkan kadar T3 di jantung, sehingga dapat menimbulkan peningkatandenyut jantung dan palpasi. Selenoprotein yang juga terlibat dalam interaksi metabolisme yodium ialah iodotyronine deiodinase  yang berfingsi merubah  thyroxine (T4) menjadi bentuk aktif dari hormon thyroid triiodothyronine (T3) (Satoto, 2001).. Enzym tersebut merupakan selenium-dependent enzymes selain merupakan katalisator utama dalam perubahan thyroxin (T4) menjadi triiodotyronine (T3) juga merupakan katalisator yang merubah dari T3 menjadi T2 untuk mempertahankan level T3 (www.orst.edu/depth/lpi/infocentre/minerals/iodine).
Selain itu, salah satu contoh dari selenoprotein yang berhunbungan denganmetabolisme yodium adalah glutathione peroxidase, berfungsi sebagai antioksidan utama dalam tubuh manusia dan binatang (Satoto, 2001). Dengan adanya gambaran diatas, jelas bahwa akibat dari kekurangan selenium asupan T3 dalam sel tubuh juga menurun.
B. Thiosianat
Tiosiant dikenal sebagai zat goitrogenik yaitu zat yang dapat menghambat transport aktif yodium dalam kelenjar tiroid dan yang paling potential dari zatgoitrogenik yang lain. Menurut  Bourdoux (1993) dalam Thaha (2001), thyocianat adalah komponen yang utama pada kelompok zat goitrogenik yang dapat mewakili asupan kelompok goitrogenik melalui makanan. Delanggu dalam Thaha (2001) melaporkan bahwa disuatu populasi bila perbandingan antara eksresi yodium dan tiosianat dalam urin (ug/g) kurang dari 3, maka daerah tempat populasi itu berada mempunyai resiko yang potensial untuk terjadinya gondok endemik. Makin kecil perbandingan antara eksresi yodium dan thyiosinat dalam urin maka semakin tinggi tingkat endemisitasnya. Namun demikian, menurut Larsen dan Ingbar dalam Thaha (2001), hambatan oleh pengaruh tiosinat hanya efektif bila konsentrasi yodium plasma normal atau rendah.
Penelitian di Pulau Seram Barat, Seram Utara dan pulau Banda menunjukkan adanya perbedaan ekresi thyocianat yang bermakna antara daerah endemikGAKY dan daerah non-endemik GAKY yang mana kandungan thyosianat tinggi pada daerah kontrol dibandingkan daerah kasus. Hal ini bertentangan dengan dugaan bahwa kandungan thiosinat yang tinggi akan dijumpai pada daerah gondok endemik. Data dari P. Buru menujukkan nilai eksresi tiosianat yang paling tinggi dibanding dengan tiga daerah lain sehingga menyebabkan tingginya nilai tiosinanat di urin pada kelompok kontrol. Akan tetapi rasio eksresi yodium dan eksresi tiosinat pada urin daerah yang endemik menunjukkan lebih kecil dari pada daerah yang non endemik (Thaha, 2001) yang menandakan bahwa ratio yang semakin kecil menghasilkan resiko yang semakin besar terhadap gondok endemik.
C. Besi
Besi adalah mineral yang paling banyak dipelajari dan diketahui oleh para ahli gizi dan kedokteran di dunia. Penemuan terakhir membuktikan bahwa kekurangan besi dapat menyebabkan terganggunya metabolisme tiroid dalam tubuh manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Zimmermann dkk (2000) yang membagi kelompok anak anak yang menderita kekurangan yodium menjadi dua, yaitu anak yang menderita anak yang kekurangan iodine saja dan anak yang menderita kekurangan iodine dan besi. Pada kelompok pertama dan kedua, semua anak diberi 200 mg oral iodine dalam minyak. TSH (thyroid Stimulation Hormon, IU (iodine concentration), T4, dan volume kelenjar thyroid diambil pada awal dan minggu ke 1,5,10, 15 dan 30 minggu sesudah pemebrian. Sesudah 30 minggu pemberian iodine, bagi kelompok yang anaemia karena kekurangan besi diberikan tablet besi (ferrous sulphate) 60 mg secara oral 4 kali perminggu selama 12 minggu. Hasilnya menunjukkan bahwa pada minggu ke 30 setelah pemberian iodine kedua kelompok, terjadi penurunan volume rata-rata tiroid menurun dibandingkan dengan awal sebelum dilakukan pemberian iodine, masing masing 45.1% dan 21.8 % (p kecil 0.01).  Pada kelompok yang ke dua, penurunan volume tiroid lebih menurun bila dibandingkan dengan baseline, yaitu menjadi 34.8% pada minggu ke 50 dan 38.4 % pada minggu ke 65.  Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi besidapat meningkatkan kemampuan iodone dalam minyak pada anak anak yang kekurangan yodium. (Zimmermann, M et al, 2000)
D. Mineral and vitamin lain
Interaksi antara yodium dengan mineral and vitamin lain perlu diteliti lebih lanjut, baik secara laboratorium dengan menggunakan hewan percobaan maupun di lapangan terhadap manusia. Penelitian yang melkihat inetraksi secara langsung antara yodium dengan vitamin A pernah dilakukan namun perlu konfirmasi lebih lanjut. Penelitian oleh Van Stuijvenberg dkk, (1999) misalnya yang mengambil 115 anak di Afrika Selatan usia 6-11 tahun yang diberi biskuit selama 43 minggu sampai lebih dari 12 bulan dibandingkan dengan control. Biskuit mengandung besi, yodium, and betha carotene sedangkan control adalah biskuit yang tidak difortifikasi. Pada akhir intervensi, terlihat pada tidak ada perbedaan perubahan dalam pengecilan kelenjar tiroidanak anak secara signifikan, Akan tetapi terjadi penurunan jumlah anak anak yang mempunyai eksresi yodium yang rendah (100 ug/L) dari semula berjumlah 97.5% menjadi tinggal 5.4%. Peningkatan eksresi urin tersebut sangat signifikan  (p kecil 0.0001). (van Stuijvenberg dkk, 1999).


Daftar Pustaka
Golden MHN. Specific deficiency versus growth failure: Type I and type II nutritients. SCN News 1992;No. 12:10-14.
Satoto. Seleneium dan Kurang Iodium dalam Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) 2001 editor Djokomoeljanto, dkk. Semarang, Badan penerbit Universitas Diponegoro. 2001
ICCIDD, UNICEF, WHO. Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring their Elimination. A guide for Programme managers. 2nd Ed. Geneva, 2002.
Thaha, Razak; Dachlan, Djunaidi M; Jafar, Nurhaedar, Jafar. Analisis faktor resiko “coastal goiter” dalam Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) 2001 editor Djokomoeljanto, dkk. Semarang, Badan penerbit Universitas Diponegoro. 2001
Van Stuijvenberg, M Elizabeth et al. Effect of iron-, iodine-, and b carotene-fortified biscuits on the micronutrient status of primary school children: a randomized controlled trial. Am  J Clin Nutr 1999; 69: 497-503
Zimmermann M, et al. Iron supplementation in goitrous, iron-deficient children improves their response to oral iodized oil. Eur J Endocrinol 2000; 142(3):217-22

Rabu, 04 Januari 2012

Bahaya Merokok


Pada saat ini di kalangan kesehatan, rasanya tidak ada yang meragukan bahwa kebiasaan merokok bukan saja mengganggu kesehatan tetapi juga merupakan salah satu penyebab utama kematian dan masalah utama kesehatan masyarakat. Akibat-akibat tersebut :

Mengurangi umur harapan hidup.
Seorang yang telah merokok 2 bungkus sigaret selama 25 tahun, harapan hidupnya akan lebih pendek,,8,3 tahun dibandingkan mereka yang tidak merokok. Risiko kematian karena kanker paru pada perokok 2 sampai 25 kali lebih tinggi daripada bukan perokok, tergantung derajat beratnya perokok. Kanker lain yang juga lebih sering ditemukan di kalangan perokok (risiko 2 sampai 17 kali dibandingkan bukan perokok); ialah: kanker laring, kanker mulut, kanker esofagus, kanker kandung kemih, dan kanker pankreas.

Penyakit jantung koroner
Perokok tanpa hipertensi dan kolesterol tinggi mendapat risiko menderita penyakit jantung koroner 60% lebih tinggi dari bukan perokok, sedang bila disertai faktor risiko lain yaitu hipertensi dan kadar kolesterol tinggi, maka risiko ini menjadi lebih tinggi lagi. Selain itu, merokok juga meningkatkan risiko terjadinya trombosis pada wanita yang menggunakan kontrasepsi Oral.1,2,4,6-8

Bronkitis kronis dan emfisema
Penyakit yang ditandai oleh sesak napas menahun yang menyebabkan penderitaan bertahun-tahun lamanya sebelum orang tersebut meninggal akan menyerang 4 sampai 25 kali lebih banyak pada perokok.

Lahir mati dan berat badan lahir rendah
lbu-ibu yang merokok mempunyai risiko lebihtinggi untuk melahirkan bayi mati atau bayi lahir hidup dengan berat badan kurang dibandingkan dengan ibu-ibu yang tidak merokok. Anak-anak dari orang tua perokok umumnya lebih kecil, jasmani dan sosial kurang berkembang dibandingkan anakanak dari orang tua bukan perokok.

Tukak lambung (ulkus peptileum)
Penderita tukak lambung lebih sering dijumpai pada perokok, dan penyembuhannya lebih sulit selama mereka masih merokok.

Alergi dan penurunan daya tahan tubuh
Keadaan ini merupakan efek langsung dari asap rokok pada tubuh manusia akibat iritasi yang terus menerus.

Beberapa penyakit rongga mulut
Tembakau adalah bahan utama rokok, dan nikotin dalam asap tembakau dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mukosa mulut. Cara penggunaan lain dengan jalan dikunyah dan dihisap seperti pada sugi tembakau atau susur juga memberikan efek iritasi yang serupa. Akibat kebiasaan merokok akan terjadi perubahan dalam rongga mulut. Warna gigi dapat berubah oleh karena tobacco stain, selain itu penggunaan pipa dapat mengganggu jaringan lunak mulut sehingga terjadi stomatitis dan leukoplakia nikotin. Leukoplakia didiagnosis berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan biopsi jaringan.